Karya Ilmiah Tentang Global Warming
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semenjak manusia pada jaman purbakala sampai dengan jaman sekarang,
manusia telah mengalami perkembangan dalam setiap periode waktu yang
dilewatinya yang telah kita kenal dengan berbagai jaman seperti jaman
meolitikum, neolitikum. Peradaban manusia telah mengalami kemajuan
sampai sekarang.
Selama perkembangan itu, manusia menjalani kehidupan bergantung pada
pertanian dan agrikultur. Dengan orientasi kehidupan tersebut, manusia
selalu berusaha menjaga dan melestarikan lingkungannya dengan
sebaik-baiknya yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia
pula.
Dan pada saatnya, perkembangan manusia telah mengalami jaman revolusi
industri yang menggantungkan kehidupan manusia pada bidang
perindustrian.
Dengan orientasi hidup tersebut, dunia agrikultur pun mengalami
kemunduran perlahan-lahan. Nilai-nilai kehidupan manusia pun mengalami
perubahan, terutama dalam interaksi manusia dengan lingkungannya.
Perubahan-perubahan yang terjadi ini menghasilkan dampak baik positif
maupun negatif.
Salah satu dampak revolusi industri yang telah terjadi dan masih terus
berlanjut pada masa sekarang dalam kehidupan dan peradaban manusia
adalah dampaknya bagi lingkungan yang ada di sekitar manusia itu
sendiri. Ekspansi usaha yang dilakukan oleh para pelaku industri seperti
pembangunan pabrik-pabrik dan pembuatan produksi dengan kapasitas besar
dengan mengesampingkan perhatian terhadap dampaknya bagi lingkungan
secara perlahan namun pasti telah mengakibatkan kelalaian yang pada
akhirnya akan merugikan lingkungan tempat tinggal manusia serta manusia
dan kehidupannya.
Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang
terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat usaha
perindustrian yang dilakukan dan telah berkembang pesat ini. Dampak
negatif ini adalah terjadinya pemanasan di dunia dan sering disebut
sebagai Global Warming. Namun, masalah Global Warming sebagai masalah
lingkungan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh beberapa pihak yang
menganggap Global Warming adalah alasan yang diciptakan untuk membatasi
laju perkembangan perindustrian.
Walaupun masih terdapat perdebatan mengenai kebenaran keadaan Global
Warming di antara para ahli lingkungan tersebut, namun masalah Global
Warming ini tidaklah dapat dipungkiri untuk diteliti dan ditelaah lebih
lanjut demi kelangsungan kehidupan manusia.
Untuk itu, Karya Ilmiah yang dibuat ini akan memperlihatkan dan
menjelaskan kebenaran mengenai masalah pemanasan Global ini dengan
berdasarkan berbagai sumber yang terpercaya dan kompeten.
1.2 Permasalahan
Dimulai dari jaman revolusi industri, konsentrasi gas karbon dioksida di
atmosfer telah meningkat hampir sebesar 30 %, konsentrasi gas metan
meningkat hampir dua kali lipat, dan konsentrasi NO2 berkurang sekitar
15 %. Peningkatan gas-gas ini menyebabkan kemampuan atmosfer untuk
menahan panas menjadi lebih besar. Sulfat aerosol, yaitu polutan udara
yang umum ditemui, mendinginkan atmosfer dengan merefleksikan kembali
radiasi cahaya dari matahari ke luar angkasa. Tetapi senyawa sulfat ini
mempunyai siklus umur yang pendek di atmosfer.
Mengapa konsentrasi gas efek rumah kaca dapat meningkat? Para ilmuwan
berasumsi bahwa pembakaran dari bahan bakar fosil dan beberapa aktifitas
manusia yang memicu dan menjadi penyebab utama meningkatnya konsentrasi
karbon dioksida di atmosfer. Respirasi dari tanaman dan proses
dekomposisi bahan organic melepaskan karbon diokasida sepuluh kali lebih
banyak dari yang mampu dihasilkan oleh aktifitas manusia, tetapi selama
berabad-abad pelepasan karbon diokasida ini diimbangi dengan penyerapan
karbon dioksida oleh vegetasi terestial dan laut.
Yang menyebabkan keseimbangan ini terganggu adalah adanya pelepasan
tambahan yang disebabkan oleh aktifitas manusia. Bahan bakar fosil
dibakar sebagai sumber energi untuk menggerakan hampir seluruh peralatan
manusia. Meningkatnya kegiatan agricultural, penggundulan hutan,
dibukanya area kosong sebagai tempat pembuangan, produksi industri, dan
pertambangan juga meningkatkan emisi dengan bagian yang cukup
signifikan.
Untuk meramalkan tingkat emisi yang akan terjadi di masa depan merupakan
suatu tugas yang sulit, karena hal itu bergantung kepada keadaan
demografi, ekonomi, teknologi, peraturan dan perkembangan institusi.
Beberapa peramalan telah dilakukan, dan hasilnya memproyeksikan bahwa
pada tahun 2100, konsentrasi karbon dioksida akan meningkat sebesar 30%
hingga 150% dari jumlah sekarang.
1.3 Tujuan
Tujuan secara umum adalah untuk mengetahui sejauh manakah pemanasan
Global ini telah terjadi? dan penyebab pastinya apa? Semua ini masih
merupakan tanda Tanya bagi manusia. Karena sampai sekarang manusia
belum mendapatkan penyebab pasti dari pemanasan Global ini dan manusia
juga mau mencari kebenaran mengenai efek dari pemanasan Global yang akan
dialami oleh manusia sendiri, makhluk hidup maupun lingkungan di
sekitarnya.
Jika pemanasan Global ini terjadi maka efek yang ditimbulkan bukan hanya
di alami oleh manusia saja tetapi juga semua makhluk hidup di
sekitarnya, seperti meningkatnya suhu di permukaan bumi menyebabkan
kekeringan, dengan demikian akibat dari kekeringan ini selain dialami
manusia juga oleh hewan dan tumbuhan dimana tumbuhan akan menjadi layu
karena kekurangan air atau dan sebagainya.
Oleh karena itu melalui karya ilmiah ini diharapkan agar manusia dapat
lebih mencegah aktivitas yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan
Global seperti mengadakan kegiatan pembakaran zat-zat yang dapat
menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat, dan lain-lain.
BAB II
PEMBAHASAN
Pertanyaan kita di sini adalah apakah pemanasan global atau global
warming itu sesungguhnya? Lalu apa yang menyebabkan terjadinya global
warming? Jika global warming terjadi, apa dampak yang akan ditimbulkan?
Dan langkah apa saja yang harus kita lakukan dalam mencegah percepatan
global warming? Kita akan membahasnya pada bab ini.
2.1 Pengertian Global Warming
Global Warming atau Pemanasan Global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 + 0.18oC
(1.33 + 0.32oF) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel
on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “seaian besar peningkatan
suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar
disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat
aktivitas manusia” melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah
dikemukaakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk
semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih
terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan
yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu
permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 oC (2.0 hingga 11.5 oF)
antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan
oleh penggunaan scenario-scenario berbeda mengenai gas-gas rumah kaca di
masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda.
Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100,
pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut
selama lebih dari 1000 tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah
stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai
jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan
bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan
bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Hingga saat ini masih
terjadinya perdebatan politik dan public di dunia mengenai apa, jika
ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan
pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap
konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan
negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol
Kyoto, yang mengarah pada pengurahan emisi gas-gas rumah kaca.
2.2 Penyebab Terjadinya Global Warming
Adapun penyebab-penyebab terjadinya global warming atau pemanasan global adalah :
1. Efek Rumah Kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari.
Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek,
termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba di permukaan Bumi, ia
berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan
Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya.
Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang
ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer
bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca, antara lain uap air,
karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi
ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang
yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di
permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga megakibatkan
suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi seagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan
demikian meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin
banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada
di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin.
Dengan temperature rata-rata sebesar 15 oC (59 oF), bumi sebenarnya
telah lebih panas 33 oC (59 oF) dari temperaturnya semula, jika tidak
ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 oC sehingga es akan menutupi
seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas
tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan
global.
2. Efek Umpan Balik
Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan
balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air.
Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2,
pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang
menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca,
pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara
sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah
kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas
CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air
absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan
agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya
berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di
atmosfer.
Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian
saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali
radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek
pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan
memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga
meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan
pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail
tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini
sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan
sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas
komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model
yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun
demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan
dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan)
dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan
cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang
berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat.
Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya
akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan
cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan
menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan
dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus
yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah
beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap
pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga
menimbulkan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia
menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona
mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton
yang merupakan penyerap karbon yang rendah.
3. Variasi Matahari
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan
kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi
kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini
dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas
Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan
mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling
tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila
aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini.
(Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut
tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena
variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin
telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun
1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari
mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke
University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi
terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode
1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan
rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini
membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca
dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa
efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah
dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan
dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari
sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade
terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan
Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat
“keterangan” dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus
Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat
“keterangannya” selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk
berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood
dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global
dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari
output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis
4. Peternakan (Konsumsi Daging)
Dalam laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh
IPCC, satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia,
terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah
yang membuat planet kita semakin panas. Sejak Revolusi Industri,
tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm
dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2
di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir!
IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia,
seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, khususnya
selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum
masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah
kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri
peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca
di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.
Penelitian yang telah dilakukan para ahli selama beberapa dekade
terakhir ini menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi dan
berubahnya sistem iklim di bumi terkait langsung dengan gas-gas rumah
kaca yang dihasilkan oleh aktifitas manusia.
Khusus untuk mengawasi sebab dan dampak yang dihasilkan oleh pemanasan
global, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membentuk sebuah kelompok
peneliti yang disebut dengan International Panel on Climate Change
(IPCC). Setiap beberapa tahun sekali, ribuan ahli dan peneliti-peneliti
terbaik dunia yang tergabung dalam IPCC mengadakan pertemuan untuk
mendiskusikan penemuan-penemuan terbaru yang berhubungan dengan
pemanasan global, dan membuat kesimpulan dari laporan dan penemuan-
penemuan baru yang berhasil dikumpulkan, kemudian membuat persetujuan
untuk solusi dari masalah tersebut .
Salah satu hal pertama yang mereka temukan adalah bahwa beberapa jenis
gas rumah kaca bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan yang kita
alami, dan manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas
rumah kaca tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh
peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor,
pabrik-pabrik modern, pembangkit tenaga listrik, serta pembabatan hutan.
Tetapi, menurut Laporan PBB tentang peternakan dan lingkungan yang
diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa, “industri peternakan
adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini
lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di
seluruh dunia (13%)”. Hampir seperlima (20%) dari emisi karbon berasal
dari peternakan. Jumlah ini melampaui jumlah emisi gabungan yang berasal
dari semua kendaraan di dunia!
Sektor peternakan telah menyumbang 9% karbon dioksida, 37% gas metana
(mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam jangka 20
tahun, dan 23 kali dalam jangka 100 tahun), serta 65% dinitrogen oksida
(mempunyai efek pemanasan 296 kali lebih lebih kuat dari CO2).
Peternakan juga menimbulkan 64% amonia yang dihasilkan karena campur
tangan manusia sehingga mengakibatkan hujan asam.
Peternakan juga telah menjadi penyebab utama dari kerusakan tanah dan
polusi air. Saat ini peternakan menggunakan 30% dari permukaan tanah di
Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk
menanam makanan ternak.
Menurut laporan Bapak Steinfeld, pengarang senior dari Organisasi Pangan
dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan – Isu dan Pilihan
Lingkungan (Livestock’s Long Shadow-Environmental Issues and Options),
peternakan adalah “penggerak utama dari penebangan hutan …. kira-kira 70
persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang
ternak”
Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira
20% dari padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang
berlebihan, pemadatan, dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab
atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak. Di Amerika Serikat
sendiri, trilyunan galon air irigasi digunakan untuk menanam pakan
ternak setiap tahunnya. Sekitar 85% dari sumber air bersih di Amerika
Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga menimbulkan limbah biologi
berlebihan bagi ekosistem.
Konsumsi air untuk menghasilkan satu kilo makanan dalam pertanian pakan ternak di Amerika Serikat
1 kg Air (Liter)
Daging Sapi 1.000.000
Daging Babi 3.260
Daging Ayam 12.665
Kedelai 2.000
Beras 1.912
Kentang 500
Gandum 200
Slada 180
Selain kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem, tidak sulit untuk
menghitung bahwa industri ternak sama sekali tidak hemat energi.
Industri ternak memerlukan energi yang berlimpah untuk mengubah ternak
menjadi daging di atas meja makan orang. Untuk memproduksi 1kg daging,
telah menghasilkan emisi karbon dioksida sebanyak 36,4 kilo. Sedangkan
untuk memproduksi satu kalori protein, kita hanya memerlukan dua kalori
bahan bakar fosil untuk menghasilkan kacang kedelai, tiga kalori untuk
jagung dan gandum; akan tetapi memerlukan 54 kalori energi minyak tanah
untuk protein daging sapi!
Itu berarti kita telah memboroskan bahan bakar fosil 27 kali lebih
banyak hanya untuk membuat hamburger daripada konsumsi yang diperlukan
untuk membuat hamburger dari kacang kedelai!
Dengan menggabungkan biaya energi, konsumsi air, penggunaan lahan,
polusi lingkungan, kerusakan ekosistem, tidaklah mengherankan jika satu
orang berdiet daging dapat memberi makan 15 orang berdiet
tumbuh-tumbuhan atau lebih.
Marilah sekarang kita membahas apa saja yang menjadi sumber gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.
Anda mungkin penasaran bagian mana dari sektor peternakan yang
menyumbang emisi gas rumah kaca. Berikut garis besarnya menurut FAO:
1. Emisi karbon dari pembuatan pakan ternak
a. Penggunaan bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk menyumbang 41 juta ton CO2 setiap tahunnya
b. Penggunaan bahan bakar fosil di peternakan menyumbang 90 juta ton CO2 per tahunnya (misal diesel atau LPG)
c. Alih fungsi lahan yang digunakan untuk peternakan menyumbang 2,4
milyar ton CO2 per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk
merumput ternak, lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai
makanan ternak, atau pembukaan hutan untuk lahan peternakan
d. Karbon yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan
ternak (misal jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28
juta CO2 per tahunnya. Perlu Anda ketahui, setidaknya 80% panen kacang
kedelai dan 50% panen jagung di dunia digunakan sebagai makanan ternak.
e. Karbon yang terlepas dari padang rumput karena terkikis menjadi gurun menyumbang 100 juta ton CO2 per tahunnya
2. Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan
a. Metana yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton per tahunnya.
b. Metana yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.
3. Emisi karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen
a. Emisi CO2 dari pengelolaan daging dapat mencapai puluhan juta ton per tahun..
b. Emisi CO2 dari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai lebih dari 0.8juta ton per tahun.
Dari uraian di atas, Kita bisa melihat besaran sumbangan emisi gas
rumah kaca yang dihasilkan dari tiap komponen sektor peternakan. Di
Australia, emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan lebih besar dari
pembangkit listrik tenaga batu bara. Dalam kurun waktu 20 tahun, sektor
peternakan Australia menyumbang 3 juta ton metana setiap tahun (setara
dengan 216 juta ton CO2), sedangkan sektor pembangkit listrik tenaga
batu bara menyumbang 180 juta ton CO2 per tahunnya.
Tahun lalu, penyelidik dari Departemen Sains Geofisika (Department of
Geophysical Sciences) Universitas Chicago, Gidon Eshel dan Pamela
Martin, juga menyingkap hubungan antara produksi makanan dan masalah
lingkungan. Mereka mengukur jumlah gas rumah kaca yang disebabkan oleh
daging merah, ikan, unggas, susu, dan telur, serta membandingkan jumlah
tersebut dengan seorang yang berdiet vegan.
Mereka menemukan bahwa jika diet standar Amerika beralih ke diet
tumbuh-tumbuhan, maka akan dapat mencegah satu setengah ton emisi gas
rumah kaca ektra per orang per tahun. Kontrasnya, beralih dari sebuah
sedan standar seperti Toyota Camry ke sebuah Toyota Prius hibrida
menghemat kurang lebih satu ton emisi CO2.
2.3 Dampak Global Warming
Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola
presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global.
Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan
mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air
laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.
1. Iklim Mulai Tidak Stabil
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian
Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih
dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan
mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung
di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami
salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di
daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta
akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa
area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk
meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang
menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban
tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih
jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca,
sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer.
Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang
lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke
angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat
siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan,
secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit
pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1
persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih
sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya
beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan
bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai
(hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan
menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa
periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi
tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
2. Peningkatan Permukaan Laut
Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan
menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi
permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub,
terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut.
Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10
inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan
lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah
pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah
Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi
dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi
lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di
daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar
untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin
mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi
ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh
dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan
terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah
dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari
Florida Everglades.
3. Suhu Global Cenderung Meningkat
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih
banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di
beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan
mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya
masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di
beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian
gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat
menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi
sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa
tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan
penyakit yang lebih hebat.
4. Gangguan Ekologis
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek
pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam
pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau
ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari
daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi,
pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies
yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota
atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang
tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan
musnah.
5. Dampak Sosial dan Politik
a. Perubahan Cuaca dan Lautan
Dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat
menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi.
Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat
mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan
kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan
perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul
penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma
psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.
b. Pergeseran Ekosistem
Dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne
diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne
diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya
ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan adamya
perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq Aedes
Agipty), Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat
tertentu yang target nya adala organisme tersebut. Selain itu bisa
diprediksi kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah akan
terseleksi ataupun punah dikarenakan perbuhan ekosistem yang ekstreem
ini. hal ini juga akan berdampak perubahan iklim (Climat change)yang bis
berdampak kepada peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA
(kemarau panjang / kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak
menentu)
Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai
juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease.
Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak
terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit
saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit
jantung dan paru kronis, dan lain-lain.
2.4 Langkah-Langkah dalam Mencegah Percepatan Global Warming
Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya pemanasan
global, mungkin kata mencegah sudah terlambat karena itu sudah terjadi.
Tapi setidaknya kita dapat mengurangi hal-hal yang dapat
mengakibatkannya.
a) Melakukan reboisasi pada hutan gundul ataupun di sekitar rumah kita.
b) Mengurangi adanya kendaraan bermotor dan hal-hal yang menyebabkan polusi udara.
c) Menjaga kebersihan lingkungan, seperti membuang sampah pada tempatnya.
d) Mengurangi pemakaian alat kosmetik yang mengandung bahan kimia yang berbahaya.
e) Menjadikan Bahan Makanan sebagai Bahan Bakar. Dengan bahsa gampangnya
konversi bahan bakar dengan biofuel. Seperti yang pernah saya baca di
majalah apa gitu saat ini jagung dapat digunakan untuk menghasilkan
biofuel (setiap bahan bakar baik padatan, cairan ataupun gas yang
dihasilkan dari bahan-bahan organic, src : wikipedia). Hal ini
dikembangkan dinegara yang jauh disana, apalagi ada pendapat terbaru
yang menyatakan bahwa sekam dari jagung jauh lebih baik untuk
menghasilkan biofuel. Biofuel ini di Indonseia mulai dikembangkan dari
Ubi.
f) Get Blueprints For a Green House. Jadi ada aturan buat green house
yang bener itu gimana sehingga fungsi-fungsi lingkungan bisa tetap
terjaga. Mungkin seperti itu.
g) Change Your Lightbulbs hal ini menyebabkan perpendaran cahaya yang
memungkinkan pemborosan terhadap energi listrik yang digunakan.
h) Gunakan Lampu yang lebih ramah lingkungan untuk penerangan jalan,
tempat-tempat umum, bahkan sampai ke rumah-rumah, misalnya menggunakan
lampu LED.
i) Memberlakukan pajak untuk pengeluaran Karbon. Skenario yang dapat
dilakukan diantaranya adalah membatasi emisi gas karbon yang dikeluarkan
oleh setiap industri. Jika sebuah Industri mengeluarkan gas karbon
kurang dari standar yang ditetapkan maka industri tersebut dapat menjual
sisa karbon yang menjadi haknya. Sedangkan jika Industri yang
mengeluarkan gas karbon melebihi batas yang ditentukan maka industri
tersebut harus membayar ke pasar berapa kelebihan gas karbon yang
dikeluarkan ke pasar. Hal ini akan memicu persaingan untuk menekan emisi
karbon ke udara.
j) Hilangkan Rumah Besar. Dapat diusahakan untuk membangun rumah dengan
ukuran yang lebih kecil. Karena rumah yang besar akan memerlukan asupan
energi yang lebih banyak untuk mendinginkan atau menghangatkan ruangan.
Adapula tips langkah-langkah berhemat sekaligus mencegah percepatan global warming adalah sebagai berikut :
1. Terus Mencari Bahan Bakar Terbaru
Warga Kampung Karang Tengah di Lereng Gunung Salamet, Banyumas, tak
pernah mengeluh ketika PLN tidak pernah berniat memasang listrik di
kampong mereka. Wargapun “mengamuk” dengan merakit sendiri sebuah
kincir air yang mampu mengalirkan listrik bagi 50 rumah di sana sejak 14
tahun lalu. Warga Krapyak IX di Yogyakarta nekat memanfaatkan limbah
tahu untuk digunakan memanaskan kompor mereka. Mereka juga menanam
jarak untuk mengganti minyak tanah dan memasang kincir air sebagai
pengganti PLN yang tak pernah hadir. Sebuah kampong nelayan di Gunung
Kidul bergotong-royong membeli panel surya untuk menerangi rumah mereka
saat malam tiba.
Sudah saatnya bahan baker minyak makin tidak terjangkau kantong, bangsa
kita menoleh pada sumber eneri berlimpah yang ada. Kita memimpikan
Bapak Presiden memberi contoh dengan memasang pembangkit listrik kincir
air di hulu sungai Cikeas daripada menyibukkan diri dengan mimpi Blue
Energy. Sudah banyak inisiatif masyarakat tanpa kontribusi pemerintah,
seharusnya ini bisa memuka inisiatif pembuat kebijakan agar semakin
memberi prioritas bagi pengembangan sumber energi terbaru..
2. Mengurangi konsumsi energi
PLN mengeluh bahwa kapasitas mereka tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan
kita, hmm pasti ada cara. Mengganti bola lampu biasa dan neon biasa
dengan lampu CFL (compact fluorescent lightbulb) dapat mengurangi
tagihan listrik bulanan. Lampu CFL 7 watt terangnya setara bola lampu
40 watt, artinya kita hanya mengkonsumsi listrik seperlima dari
biasanya. Menutup pintu ketika AC dinyalakan juga dapat mengurangi
konsumsi listrik dari setelan AC anda. Konsumsi listrik yang makin
hemat artinya kita tidak memberi alasan pada PLN untuk melakukan
pemadaman bergilir, selamanya!
3. Mintalah pemerintah mengganti lampu kota dengan lampu LED
Sebuah kota di Amerika mencoba mengganti semua lampu di garasi dari
bolam biasa menjadi lampu LED, apa hasilnya? sekarang semua lampu dikota
itu diganti dengan lampu LED. Lampu ini menghemat energi listrik
antara 40 – 70 %, jauh lebih terang dan memiliki umur 5 kali lebih lama
daripada bola biasa. Ingatkan pemerintah, uang mereka dari pajak rakyat
jadi mintalah mereka berhemat dalam memakai listrik (dan sekali lagi
jangan biarkan PLN punya alasan untuk melakukan pemadaman).
4. Gunakan mobil pribadi seperlunya
Jalur pejalan kaki dan pesepeda, buat pemerintah meniru hal ini !
Bus itu panas, bau, sesak dan tidak punya jadwal, toh jauh lebih
banyak orang indonesia yang memanfaatkan transportasi publik dibanding
mobil pribadi, kita ingin merakyat bukan? Selain bus, ada sepeda, ada
kereta dan tentu saja kaki. Tanyakan hal ini pada dokter manapun,
“Benarkah jalan kaki dan bersepeda bisa membantu kesehatan badan dan
juga anggaran?” saya jamin mereka setuju. Mintalah wakil rakyat dan
pemerintah membuat proyek untuk memperbaiki trotoar supaya jalan kaki
itu nyaman, dan membuat jalur khusus sepeda supaya aman. Dengan
mengurangi penggunaan mobil pribadi kita bisa menabung, membantu
mengurangi polusi.
5. Bayarlah tagihan Anda secara online dari rumah atau ATM terdekat
Keamanan sistem perbankan online nasional mungkin belum sempurna dan
untuk sementara kita masih takut memanfaatkannya secara optimal. Namun
secara logika, melakukan pembayaran bermacam tagihan (kartu kredit,
tiket pesawat/kereta, telpon, PDAM, PLN, pajak dll) melalui internet
dapat menghemat penggunaan jutaan lembar kertas, jutaan liter bahan
bakar untuk kendaraan yang mengantar kita menuju loket pembayaran, serta
bahan bakar untuk kendaraan yang mengantarkan formulir tagihan dari
kantor cabang ke kantor pusat.
Paling tidak bayarlah lewat ATM terdekat jika Anda masih ketakutan
melakukan transaksi lewat internet, bila perlu gunakan sepeda atau
berjalan kaki sampai ke ATM. Beberapa merchant juga menawarkan sistem
penagihan lewat email dan bukan surat, manfaatkanlah. Ini adalah era
paperless, untuk apa anda punya komputer atau komunikator canggih?
6. Periksalah sebelum membeli
Pada beberapa peralatan elektronik, anda mulai sering menemukan stiker
berlogo bintang hijau dan tulisan “Energy Star Appliances“, logo ini
memiliki makna peralatan tersebut telah lulus sertifikasi hemat energi.
Alat ini lebih sedikit “memakan” listrik. Pilihlah peralatan ini jika
anda sedang memilih alternatif diantara dua alat. Sebuah penelitian
menyebutkan peralatan yang lulus uji konsumsi energi akan menghemat
tagihan listrik sampai sepertiganya. Jika anda memilih kendaraan
bermotor, pasti anda juga akan lebih memprioritaskan mobil/ motor yang
lebih irit bahan bakar bukan?
7. Kurangi makan steak daging
Makan daging membuat kita makin miskin harta, kaya kolesterol juga bikin gerah.
8. Rajinlah belanja di pasar terdekat
Selain kita akan lebih sering berinteraksi langsung dengan masyarakat
sekitar kita, berbelanja dipasar lokal juga akan lebih bermanfaat untuk
para petani dan pedagang disekitar kita. Selain lebih murah juga lebih
menyenangkan, mengurangi jatah servis kendaraan bermotor dan mengurangi
anggaran BBM. Satu lagi hadiahnya, kita juga akan mengurangi kemacetan
di jalan dan mengurangi “nafsu” para pejabat yang ingin mendirikan
puluhan mal disebuah kota kecil.
9. Jangan biarkan peralatan elektronik dalam keadaan standby
Hampir semua peralatan elektronik kita memiliki mode standby, dan kita
akan membiarkan TV, komputer, PS, sound system kita dalam keadaan
standby semalaman. Tahukah Anda bahwa mode standby ini memiliki banyak
resiko? Pertama, resiko kebakaran. Kedua adalah saat dalam posisi
standby diam-diam peralatan ini akan tetap mengkonsumsi listrik. Sebuah
TV mengkonsumsi listrik sebanyak 11 watt (tipikal) selama standby.
Sebuah penelitian di Amerika menyatakan, total energi listrik yang
dihasilkan semua peralatan elektronik dalam posisi standby di Amerika
selama tahun 2005 adalah 64 Juta Watt Jam. Penulis yakin jika semua
rumah tangga di Indonesia mencabut colokan TV dan sistem audio saat
mereka tidur, lagi-lagi PLN akan kehabisan alasan untuk melakukan
pemadaman bergilir.
BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari apa yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka
pada bab ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
a) Pemanasan Global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
b) Penyebab-penyebab terjadinya global warming atau pemanasan global adalah :
1. Efek Rumah Kaca
2. Efek Umpan Balik
3. Variasi Matahari
4. Peternakan (Konsumsi Daging)
c) Dampak-dampak terjadinya pemanasan global adalah :
1. Iklim Mulai Tidak Stabil
2. Peningkatan Permukaan Laut
3. Suhu Global Cenderung Meningkat
4. Gangguan Ekologis
5. Dampak Sosial dan Politik
a) Perubahan cuaca dan lautan
b) Pergeseran ekosistem
d) Langkah-langkah dalam Mencegah Percepatan Global Warming
1. Melakukan reboisasi pada hutan gundul ataupun di sekitar rumah kita.
2. Mengurangi adanya kendaraan bermotor dan hal-hal yang menyebabkan polusi udara.
3. Menjaga kebersihan lingkungan, seperti membuang sampah pada tempatnya.
4. Mengurangi pemakaian alat kosmetik yang mengandung bahan kimia yang berbahaya.
5. Menjadikan Bahan Makanan sebagai Bahan Bakar.
6. Get Blueprints For a Green House.
7. Gunakan Lampu yang lebih ramah lingkungan untuk penerangan jalan, tempat-tempat umum, bahkan sampai ke rumah-rumah
8. Memberlakukan pajak untuk pengeluaran Karbon
9. Hilangkan Rumah Besar
10. Terus Mencari Bahan Bakar Terbaru
11. Mengurangi konsumsi energi
12. Mintalah pemerintah mengganti lampu kota dengan lampu LED
13. Gunakan mobil pribadi seperlunya
14. Bayarlah tagihan Anda secara online dari rumah atau ATM terdekat
15. Periksalah sebelum membeli
16. Kurangi makan steak daging
17. Rajinlah belanja di pasar terdekat
18. Jangan biarkan peralatan elektronik dalam keadaan standby
DAFTAR PUSTAKA
1. www.sobatbaru.blogspot.com
2. www.mcarmand.co.cc
3. http://www.wikimu.com/news/DisplayNewes.aspx?id=4968
4. www.buletinlitbang.dephan.go.id
5. www.vagamec.blog.com
6. http://bappenda.makassar.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=99&Itemid=67
7. http://pilonsloemoet.blogspot.com/2008/01/cara-mencegah-global-warming_07.html
8. http://www.time.com/time/specials/2007/environment/article/
9. http://kata-kata.com/2008/09/12/tips-langkah-berhemat-sekaligus-mencegah-global-warming-1/
10. http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global
11. http://yudhim.blogspot.com/2009/02/contoh-karya-tulis-global-warming.html